Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Minggu ini adalah minggu yang menurutku paling melelahkan dalam hidupku. Bagaimana tidak, PR B.Inggris, Fisika, Kimia Matematika, B.Indonesia (hehe…) saling beriringan dalam 1 minggu ini. Entah mengapa rasanya pada kelas 3 ini aku merasa bahwa tahun inilah awal tahun pelajaran yang paling berat dibanding tahun sebelumnya. Mungkin juga pendapat ini berbeda dengan teman-temanku. Mungkin juga karena aku belum terbiasa dengan beban yang bertambah karena harus menghadapi UAN 2009 nanti.
Sejenak setelah pulang sekolah aku dapat melupakan kejenuhan itu. Pulang sekolah langsung kuganti bajuku dan cuci tangan untuk bersiap makan siang. Belum seperempat piring aku menghabiskan makananku tiba-tiba hpku berbunyi. Bergegas aku menuju kamarku. Kulihat ternyata nama penelepon adalah Salman, sepupuku.
“Halo, ada apa, Man?”
“Eh, Da. Kamu sibuk sore ini?”
“Mmm. Nggak, emang kenapa?”
“Eh, jalan-jalan yuk. Ada yang pengen aku bicarain sekalian.”
“Kenapa nggak ngomong di telpon aja? Atau datang ke rumahku langsung aja.”
“Ah, nggak ah. Pulsa lagi sekarat nih.” kata Salman.
“Aku juga malas jalan-jalan. Mendingan nonton tv di rumah, ada acara seru. Bensin motorku juga udah tipis.” jawabku.
“Waduh, kebiasaan. Kenapa sih, setiap jalan-jalan pasti nggak mau kalo diajak?”
“Ya, malas aja. Bikin capek. Keluyuran nggak tahu ke mana. Lebih baik tidur di rumah. Badan sehat dan segar. Lagipula dompetku udah kering nih.”
“Ah, ntar deh aku traktir. Aku juga deh yang jemput. Gimana? Mau ya?”
“Mmm, ya udah deh. Lagipula besok hari Minggu. Jam berapa?”
“Jam 2 nanti.”
“Yah, itu jalan-jalan apa mau ngejar pesawat? Panas tau! Jam 4 aja!!”
“Ya, udah jam 4 ya.”
“Oke.” jawabku sambil menutup telponku. Kembali aku melanjutkan makan siangku yang tertunda.
Salman adalah sepupuku dari anak pamanku. Umurnya sekitar 20-an. Wajahnya lumayan. Badannya juga agak tinggi dariku. Pokoknya lumayanlah. Dia tinggal di km.15. Dia sudah kuliah dan magang di sebuah perindustrian kecil milik ayahnya. Menurutku dia dapat disebut orang yang berkecukupan karena dia sudah dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri tanpa bantuan orangtua.
* * * * *
Begitu jam 4, aku sudah siap menunggu jemputan. Tepat jam 4 lewat 5 menit, terdengar suara motor Salman masuk ke halaman rumahku. Aku langsung keluar menyapanya.
“Waalaikumsalam.” aku langsung menyapa Salman.
“Apaan sih. Orang belum Assalamualaikum juga!” kata Salman setengah tertawa.
“Eh, emang mau kemana nih? Tumben!” aku bertanya tujuan Salman.
“Ke pasar.” jawabnya singkat.
“Ke pasar?? Pasar Jumat? Udah kemarin tau!!”
“Pasar di kota tau!”
“Oh, ayo deh berangkat. Ntar kesorean.”
“Tadi katanya jam 2 kepanasan. Ini jam 4 kesorean. Ah, banyak alasan, deh.”
Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Salman. Begitu aku mengambil helm aku langsung meninggalkan rumah. Setelah tiba di tempat, ternyata tempat yang dia maksud bukan pasar, melainkan tempat orang-orang berkumpul atau istilah kerennya nongkrong para anak-anak muda.
“Eh, katanya ke pasar. Mau apa ke sini?.”
“Tunggu aja dulu.”
Beberapa menit menunggu ternyata ada seorang perempuan seusiaku yang menghampirinya.
“Hai, kak Salman!” kata perempuan itu.
“Hai, An.” jawab Salman.
“An, perkenalkan, ini Huda. Sepupuku. Da, ini Ani, teman aku.” Salman memperkenalkan diriku.
“Hai.” jawabku atas perkenalan Salman.
“Hai juga.” jawab Ani.
“Ayo duduk dulu.” Salman mempersilahkan Ani untuk duduk di antara kami bertiga.
“Rani mana, An?” Salman bertanya kepada Ani.
“Oh, kak Rani katanya sebentar lagi ke sini. Eh, tuh dia orangnya.” kata Ani sambil menunjuk ke salah seorang wanita yang kira-kira seumur Salman.
“Oh, iya. Aku ke sana dulu ya. Aku mau menyambut dia dulu. Kalian ngobrol aja dulu.” kata Salman kepada kami berdua sambil meninggalkan kami.
Pertama kali aku melihat Ani, dia merupakan perempuan yang lumayan cantik. Rambutnya terurai, wajahnya manis, ditambah dengan jaket hijau yang dikenakannya. Tingginya juga hampir sama dengan aku.
Awalnya aku agak canggung berada di sebelah perempuan yang baru aku kenal. Namun kuberanikan juga untuk memberanikan diriku membuka pembicaraan.
“Eh, An. Boleh nanya nggak?” aku mulai membuka perbincangan.
“Boleh, nanya apa?”
“Salman itu siapanya kamu sih? Rasanya aku baru kenal sama kamu dan wanita yang kamu tunjuk tadi deh.”
“Oh. Wanita yang aku tunjuk tadi kakakku, namanya Rani. Dia pacar sepupu kamu itu. Karena dia sering berkunjung ke rumah aku, ya otomatis jadi kenal dong.” katanya sambil tersenyum.
Aduh, senyumnya membuat hatiku bergetar. Apakah ini…. Ah, tidak. Jangan lagi! Pengalamanku yang terdahulu sudah cukup membuatku sakit hati.
Mungkinkan aku akan kembali mengalaminya. Tapi perasaan ini tak bisa kubendung. Ah, aku sudah jatuh cinta.
“Oh, gitu. Eh, sudah kelas berapa sekarang?”
“Kelas 3. Kamu?”
“Sama dong. Aku juga kelas 3. SMA mana?”
“SMA ….” Jawabnya sambil menerangkan SMA tempat dia bersekolah.
Begitulah kami terus berbincang-bincang untuk mengetahui pribadi masing-masing. Hingga akhirnya sampai ke pertanyaan,
“Udah punya doi belum?” aduh, aku keceplosan, gumamku dalam hati.
“Mmm, belum. Emang kenapa?” katanya kelihatan berpikir menjawab pertanyaanku.
“Ah, nggak apa-apa. Kaget aja cewek manis kaya kamu belum punya doi.” kataku. Ani hanya tersenyum.
Ingin sekali saat itu kuucapkan ‘aku pengen daftar nih. Ada lowongan nggak’. Tapi keberanian itu seolah-olah pergi menghilang dariku. Aku memang orang yang tidak mempunyai keberanian untuk hal seperti ini. Jadi kulanjutkan pembicaraan.
“Punya alamat e-mail nggak?” tanyaku.
“Nggak punya tuh. Kalo e-mail sekolah aku ada, mau?” katanya sambil tertawa.
“Ih, bercanda. Ntar aku niat kirim ke kamu, malah dibalas kepala sekolah kamu lagi. Kalo friendster?” tanyaku kembali.
“E-mail aja nggak ada. Apalagi itu.”
“Oh, iya. Hehe. Eh, kalo nomor …..”
“Huda..!!. Kita pulang aja. Di sini bikin bete!!” tiba-tiba Salman memanggil.
Omonganku terputus karena panggilan Salman tadi. Mukanya terlihat menahan marah,
“Emang kenapa, Man?” tanyaku.
“Ah, sudah. Pokoknya kita pulang saja.” katanya sambil menaiki motornya dan memasang helmnya.
Aku pun jadi bingung dan ikut saja apa katanya. Aku langsung naik motornya dan memakai helmku. Dan Salman langsung tancap gas meninggalkan tempat ini.
Salman menarik gas nya sehingga kecepatan motor hampir 90 km per jam. Tiba-tiba aku teringat. Astaga! Aku lupa sama Ani. Aku belum minta nomor hp nya. Jangankan minta nomor hp, mengucapkan selamat tinggal pun tidak sempat. Ah, sial! Ingin kukatakan kepada Salman agar kembali ke tempat itu. Tapi melihat raut wajah Salman yang merah padam aku mengurungkan niatku itu.
* * * * *
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri untuk menelpon Salman untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Sekaligus mungkin dia punya nomornya Ani, hehehe.
“Halo, Man.”
“Halo, Da. Ada apa?” Salman terdengar lebih tenang dibandingkan kemarin.
“Kemarin Sabtu itu kamu kenapa? Aku belum sempat akrab dengan Ani kamu sudah tancap gas.”
“Mmm, itu, anu. Mmm…” Salman terdengar tidak mau memberitahu masalahnya.
“Ayo, Man. Jawab!!”
“Anu, saat itu. Rani katanya minta putus sama aku. Katanya dia sudah nggak sayang lagi sama aku. Dia mau pindah ke lain. Aku sangat emosi dan ingin pergi saja dari tempat itu.” Salman terdengar sedih.
“Oh, maaf ya kalau begitu. Tapi kalau mau pacaran jangan bawa-bawa orang dong.” kataku kepada Salman.
“Emang sengaja aku..”
“Eh, maksudnya?” aku berkata bingung.
“Ya, sengaja aku aja. Supaya kamu kenal sama Ani. Tapi malah begini jadinya. Gimana, orangnya manis kan?”
“Yaa… lumayan juga, sih. Gara-gara kamu aku jadi patah hati nih.” kataku sambil tersenyum.
“Cieeh! Suka pandangan pertama, ni yee” katanya terdengar mengejekku.
“Apaan sih. Eh, kamu punya nomor Ani nggak. Kemarin aku tidak sempat nanya. Kamu sih langsung tancap gas. Pasti ada dong. Nomor hp adiknya pacar masa nggak tahu.” kataku merayu Salman agar memberinya.
“Aduh, maaf Da. Gimana, ya. Semua tentang Rani sudah aku hapus. Nomornya, kenangannya, semua tentangnya, termasuk adiknya. Aku ingin melupakan segalanya tentang Rani dalam hp ku dan juga dalam pikiranku.”
“Oh, gitu..” kataku kecewa.
“Kenapa, Da? Kedengarannya sedih?”
“Ah, nggak apa-apa. Lagipula masih banyak cewek lain kan, Man?”
Entah untuk siapa kata-kata itu kuucapkan. Apa untuk Salman yang baru kehilangan Rani, atau untukku yang kehilangan Ani. Ah, apa daya. Semoga kita bertemu kembali, An. Walaupun pertemuan kita hanya sebentar, aku akan selalu mengenang tentang dirimu. Tapi jika kita tidak bertemu sampai hari nanti, kuharap engkau selalu mengingatku sebagai ‘teman sesaat’
Belum Ada Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>